ToFarmer selalu pengin tumbuh nyata, bukan cuma ikut tren. Salah satu caranya? Pakai AI sebagai teman ngobrol yang bikin kita tetap mikir, bukan bikin otak kendor.
skrip Python sederhana yang cuma bisa meniru Q&A dengan fuzzy matching. Intinya:
Tanyain sesuatu → AI nyari jawaban paling mirip dari catatan.
Pertanyaan nggak persis sama pun masih bisa dijawab.
Rasanya kayak ngobrol sama AI, tapi sebenarnya cuma trik Python lucu-lucu.
Filosofinya: AI teman ngobrol, bukan pengganti otak kita. Jadi tetap mikir, catatan aman, ingatan terjaga, nggak gampang lupa.
2. Sekarang: AI Nyata dan Kreatif (RAG + LLM Gemma)
Sekarang ToFarmer AI udah naik kelas. Nggak cuma meniru lagi. Ini dia yang baru:
RAG (Retrieval-Augmented Generation) → AI bisa baca catatan relevan sebelum jawab, jadi nggak asal nebak.
LLM Gemma → AI bisa berpikir kreatif, nggak cuma patuh sama teks.
Offline tanpa internet → AI tetap jalan di laptop, beda sama ChatGPT atau Meta yang harus online.
Jadi sekarang AI bisa ngobrol pintar, tetap kreatif, tapi aman di komputer kita sendiri.
Kelebihan yang Bikin Senyum
Jawaban lebih akurat, nggak ngaco kayak dulu.
Bisa tambah data baru tanpa harus repot embed ulang semua.
Offline → nggak perlu takut internet tiba-tiba mati.
GUI interaktif bikin ngobrol sama AI seru, kayak ngobrol sama teman yang nggak ngaturin kita.
3. Filosofi yang Tetap Lucu tapi Serius
Manusia tetap boss: AI cuma teman ngobrol.
Belajar sambil senyum: setiap interaksi bikin kita tambah pengalaman.
Bisa diwariskan: sistem ini bisa dipakai generasi berikutnya tanpa drama.
4. Kesimpulan
Dari AI imitasi → AI nyata, ToFarmer terus tumbuh. AI sekarang bisa berpikir, kreatif, tapi tetap nggak bikin kita malas. Semua offline, aman, dan penuh kontrol.
Ini bukti nyata bahwa ToFarmer tumbuh bukan sekadar wacana, tapi nyata, kreatif, dan seru buat diajak ngobrol!
Metode tanam blok demi blok berangkat dari pengamatan sederhana: menanam di pot membuat kita lebih paham kebutuhan tanaman. Di dalam pot, ruang tumbuh terbatas, tanah terukur, air dan nutrisi lebih mudah diamati. Kita jadi tahu kapan tanah terlalu padat, kapan terlalu basah, dan bagaimana akar berkembang.
Namun muncul pertanyaan yang sangat membumi, terutama di desa:
Kalau tanahnya luas, ngapain nanam di pot?
Di sinilah metode tanam blok demi blok menemukan bentuknya.
Pot Itu Alat Belajar, Bukan Tujuan
Pot bukanlah tujuan akhir bertani. Pot hanyalah alat belajar. Ia mengajarkan satu hal penting: tanaman butuh ruang hidup yang jelas dan terkendali.
Metode blok demi blok mengambil prinsip pot, lalu melepaskannya dari benda pot itu sendiri. Yang dipertahankan bukan wadahnya, melainkan cara berpikirnya.
Dari Pot ke Tanah: Blok Tanam
Dalam praktiknya, metode ini dilakukan dengan cara:
Membuat lubang tanam sesuai kebutuhan tanaman
Mengisi lubang dengan tanah yang telah dikondisikan
Menanam langsung di tanah kebun, tanpa pot
Lubang tanam inilah yang berfungsi sebagai blok — ruang hidup tanaman yang jelas, terukur, dan tetap menyatu dengan tanah asli.
Tanah di sekitarnya tetap alami. Tidak dipaksa seragam. Tidak ditutup plastik. Tidak dipisahkan dari lingkungannya.
Mengenal Tanaman Lewat Blok
Keuntungan utama metode ini bukan semata hasil panen, tapi kedekatan dengan tanaman.
Dari satu blok ke blok lain, kita bisa belajar:
Bagaimana respon tanaman terhadap jenis tanah
Kebutuhan air yang sebenarnya
Cara akar berkembang
Kenapa satu tanaman tumbuh lebih baik dari yang lain
Tanaman tidak lagi diperlakukan sebagai objek produksi, tapi sebagai makhluk hidup yang kita pahami pelan-pelan.
Cocok untuk Desa, Tidak Ironis
Di desa, tanah biasanya masih luas. Alam masih dekat.
Metode tanam blok demi blok terasa lebih masuk akal dibanding menanam di pot di tengah kebun. Tidak ironis. Tidak konyol.
Kita tetap bisa bertani secara terukur dan terkendali, tanpa menjauh dari karakter alam desa.
Bertani dengan Cara yang Masuk Akal
Metode tanam blok demi blok bukan teknologi canggih. Bukan juga solusi instan.
Ini adalah cara bertani yang:
Sederhana
Sadar
Membumi
Belajar dari alat, lalu kembali ke tanah.
Artikel ini merupakan bagian dari eksplorasi pertanian eksperimental ToFarmer, yang berangkat dari praktik lapangan dan pengamatan langsung terhadap tanaman.
Di balik hamparan hijau yang sering muncul di brosur wisata, ada cerita lain yang jarang diangkat. Cerita tentang kebun yang sebenarnya sudah ngos-ngosan. Tentang petani yang masih memetik daun, meski kebun itu bukan miliknya. Tentang hidup yang terus jalan, walau tak pernah disorot kamera.
Pangeran Diponegoro jelas tidak menanam teh. Tidak ada hubungan langsung antara perjuangan beliau dengan kebun teh. Tapi nama besar Diponegoro sering diseret ke mana-mana, dipakai untuk memberi kesan mulia pada proyek-proyek pembangunan yang datang jauh setelah zamannya. Simbol besar dipasang, sementara kenyataan kecil di lapangan sering ditutup rapat.
Kita melihatnya sendiri, bahkan kita mengalaminya. Pola yang dipakai adalah pola lama: perkebunan besar ala kolonial. Monokultur, rapi, mudah dihitung anggarannya. Lahan dibabat habis, lalu teh ditanam sebagai pengganti. Sistem ini hidup dari proyek dan dana, bukan dari keberlanjutan.
Selama dana mengalir, kebun dirawat. Begitu proyek selesai, kebun ditinggal, kebun teh tidak benar-benar dihidupkan . Selanjutnya Wisata jadi jalan cepat: pemandangan dijual, meski teh tak lagi jadi tumpuan utama. Cerita diperhalus, sejarah diringkas, kegagalan ditutup dengan foto-foto cantik.
Istilah seperti “agrowisata teh aktif” terdengar meyakinkan. Tapi tetap menyisakan tanya: aktif untuk siapa? Dari perkebunan ke wisata, sering kali itu cuma luka lama yang ditutup brosur. Sementara petani yang masih bertahan, itulah perlawanan yang paling sunyi.
Di tengah kondisi seperti itu, masih ada petani yang memilih tetap jalan. Mereka tidak semua lahan sendiri. Bahkan menyewa atau mengontrak petak-petak kecil kebun teh yang belum sempat dibabat. Mereka memetik daun, mengolah seadanya, lalu menjual dalam skala kecil.
Tidak ada proyek besar di sini. Tidak ada janji. Yang ada cuma keberanian, konsistensi, dan pengetahuan yang diwariskan dari lapangan.
Kalau ini mau disebut gerilya, ini bukan gerilya angkat senjata. Ini gerilya hidup: bertahan supaya sesuatu tidak benar-benar mati. Di titik ini, narasi Diponegoro justru terasa lebih pas—bukan soal perang, tapi soal laku bertahan. Bedanya, kalau Diponegoro musuhnya jelas, petani hari ini sering tak tahu harus melawan siapa.
Dalam cara pandang Jawa, menang tidak selalu soal angka besar. Ada konsep menang tanpa ngasorake—menang tanpa merendahkan, menang tanpa harus menguasai. Petani teh ini mungkin kalah secara ekonomi dan kebijakan. Tapi selama mereka masih menanam dan merawat kebun dengan jujur, hidup itu belum kalah. Yang dijaga bukan cuma tanaman, tapi cara hidup.
Dari kesadaran sederhana itulah kami melangkah: yang masih hidup tidak boleh ditinggal sendirian.
Peran kami sederhana dan realistis:
mencatat proses yang benar-benar terjadi,
menjaga agar cerita petani tidak hilang,
dan, jika kelak sistem memungkinkan, membantu menciptakan keberlanjutan bagi mereka yang tetap konsisten.
Hari-hari terakhir di ToFarmer itu kayak campuran acara Misteri Gunung Merapi, Memasak Bersama Mama, dan DIY Tukang Pemula—tapi versi Menoreh. Kita lagi sibuk-sibuknya bangun Dinding Maria, sebuah galeri lukisan kopi bertema rohani Katolik. Kedengarannya mewah ya? Tapi prosesnya… ya tetap ala ToFarmer: pakai sandal jepit, baju belepotan tanah, dan ditemani aroma kopi yang kadang jadi inspirasi, kadang bikin lapar.
1. Dinding Maria: Galeri Serius yang Dibangun Santai
Galeri ini nanti bakal jadi tempat lukisan-lukisan kopi nongkrong dengan anggun. Tapi proses ngebangunnya?
Ehm… anggun itu opsional.
Kadang kita ukur dinding pakai feeling, kadang pakai penggaris beneran. Yang penting berdiri dulu, nanti baru dipercantik. Filosofinya: yang penting mulai dulu, estetik belakangan.
Pokoknya Dinding Maria ini nanti bakal jadi tempat orang lihat lukisan sambil bilang,
“Wah ini yang bikin petani?!”
Iya, yang bikin petani. Dan petani sekarang bukan cuma jago cangkul, tapi jago nyeni juga.
2. Kompos: Sahabat Setia Tiap Hari
Di tengah pembangunan galeri, kita tetap setia sama si kompos. Setia banget. Bahkan kayak hubungan yang toxic: ditinggal bentar aja, dia marah, panas, dan baunya ke mana-mana.
Tapi kompos inilah yang jadi jantung pertanian ToFarmer.
Dari sampah dapur, daun kering, dan semangat sisa-sisa kita, lahirlah tanah kompos yang subur.
Kita aduk, kita bolak-balik, kita cek kelembapan…
Kaya ngurus anak kecil, tapi versi yang nggak bisa protes.
3. Eksperimen Mangga: Perjalanan 1 Biji yang Penuh Drama
Nah ini bagian paling seru.
Di sela-sela aktivitas padat, kita memulai eksperimen besar (padahal kecil tapi kita besarkan biar keren): menanam 1 biji mangga.
Cuma satu.
Karena fokus adalah kualitas, bukan kuantitas. (Alibi karena mangganya cuma satu biji.)
Langkah-langkah ilmiah ala ToFarmer:
Biji mangga dijemur
Biar dia mikir keras, “Aku harus kuat.”
Dikupas kulit luarnya
Supaya ibaratnya: kita bantu dia membuka jati diri.
Ditancapkan ke tanah kompos buatan sendiri
Jadi dia langsung merasakan premium treatment: first class soil.
Diletakkan di lokasi jalan masuk Isoteri Kopi
Karena suatu hari, kalau dia tumbuh besar, dia bakal jadi satpam alami.
Dan nanti di jalur itu mau ditambah durian juga. Jadi si mangga ini calon tetangga dari raja buah.
Dan setiap pagi kita nengok dia sambil bilang,
“Gimana nak? Sudah siap tumbuh?”
Dia diam saja, tapi kita tahu dia sedang menghimpun kekuatan.
4. Jalan Masuk Isoteri Kopi: Masa Depan Buah-buahan
Rencana besar ToFarmer adalah menanam pohon buah di sepanjang jalan masuk: mangga, durian, dan mungkin buah-buah lain yang belum menentukan nasib.
Jadi suatu saat nanti, orang masuk ke Isoteri Kopi itu bukan cuma lihat bangunan dan kebun—
tapi disambut oleh buah-buahan yang kita rawat dari nol.
Kalau mangga pertama ini sukses, dia akan jadi founding father pohon buah ToFarmer.
5. Ritme Harian yang Aneh Tapi Masuk Akal
Satu hari bisa:
pagi bikin kompos,
siang bangun galeri,
sore cek biji mangga sok kuat itu,
malam baca chart trading,
tengah malam mikirin blockchain,
jam 2 pagi nulis artikel biar ada dokumentasi.
Orang luar mungkin bingung: “Ini proyek apa sih?”
Tapi bagi kita, semua hal itu justru saling nyambung.
Pertanian, seni, teknologi, trading — semua bertemu di satu kata: ToFarmer.
6. Penutup: Dari 1 Biji Mangga, 1 Galeri, dan 1 Semangat
Sebenernya apa yang kita lakukan sekarang terlihat sederhana:
Bangun dinding,
aduk kompos,
tanam satu biji mangga.
Tapi justru dari hal-hal kecil inilah masa depan ToFarmer sedang dirajut.
Yang penting kita bergerak, konsisten, dan tetap lucu menghadapi hari-hari yang melelahkan.
Suatu hari nanti, saat orang melewati jalan masuk Isoteri Kopi dan melihat mangga, durian, dan galeri Dinding Maria yang sudah berdiri megah, kita bisa bilang:
“Itu semua dimulai dari satu biji mangga yang sempat dikupas dan dijemur.”
“Dari yang awalnya mengejar scatter, kini mulai mengejar sinyal MACD.”
Eksperimen Pelatihan trading yang baru saja kita jalankan selama satu bulan terakhir merupakan salah satu eksperimen kecil ToFarmer untuk memahami apakah ilmu modern seperti trading dapat dipelajari dan diterapkan oleh masyarakat desa yang minim literasi. Eksperimen ini sengaja dimulai dari satu orang saja, seseorang yang dulunya adalah petualang slot meski nggak parah :) tetapi memiliki keinginan untuk belajar hal yang lebih masuk akal dan terukur. Tantangan terbesarnya bukan hanya pada teknis aplikasi, melainkan pada perubahan cara berpikir dari pola judi menuju pola dagang yang penuh perencanaan.
Perubahan mindset ini tidak bisa dilakukan secara cepat. Pendekatan yang kita ambil adalah membandingkan langsung antara kebiasaan slot dengan trading. Slot mengandalkan keberuntungan, sensasi, dan tombol yang ditekan tanpa perhitungan. Trading justru kebalikannya, karena penuh pertimbangan, alasan masuk, alasan keluar, dan disiplin mengelola risiko. Materi pertama yang diulang hampir setiap pertemuan adalah bahwa trading itu dagang, bukan judi. Dengan cara itu, proses memahami konsep menjadi lebih mudah karena penjelasan memakai bahasa yang sudah akrab bagi peserta.
Hambatan berikutnya adalah teknis. Karena peserta berasal dari generasi sebelum milenial, teori-teori seperti price action, pola candlestick, dan edukasi online yang rumit tidak bisa digunakan. Materi harus disederhanakan, bukan dipersulit. Kita memilih aplikasi MT5 versi Android karena tampilannya konsisten dan cukup mudah dipahami. Fokus awal bukan pada teori harga, melainkan pada kebiasaan melihat chart. Peserta diminta belajar memasang indikator, menghapus, lalu memasang lagi hingga hafal posisi tombol. Dengan begitu, rasa takut terhadap tampilan aplikasi berangsur hilang.
Indikator yang digunakan pun hanya dua: Moving Average dan MACD. Kita menghindari pembahasan berat yang justru membuat bingung. Dengan dua indikator ini saja, peserta dilatih membaca arah, mengenali kecenderungan, dan memahami kapan entry dilakukan. Kita membuat SOP sederhana yang bisa dihafal tanpa catatan. Pertama melihat arah MA, lalu mengecek apakah MACD searah. Jika searah, barulah entry dilakukan. Setiap entry harus memasang stop loss dan take profit. Ini melatih kedisiplinan dasar yang sangat penting untuk menghilangkan kebiasaan menekan tombol secara impulsif seperti di slot.
Hasil dari eksperimen ini cukup mengejutkan. Dalam waktu satu bulan, peserta sudah mampu mengoperasikan MT5 sendiri, memahami fungsi indikator dasar, dan mengikuti SOP entry tanpa paksaan. Lebih dari itu, akun demo yang ia jalankan sendiri menghasilkan profit sekitar sepuluh persen. Angka ini bukan ukuran keberhasilan utama, tetapi menjadi bukti bahwa pendekatan sederhana dan terarah ternyata bisa diterima oleh masyarakat desa dengan latar belakang minim literasi digital.
Eksperimen ini penting bagi ToFarmer karena memberikan data nyata tentang bagaimana pengetahuan modern dapat dibawa masuk ke kehidupan lokal jika penyampaiannya disesuaikan. Kita belajar bahwa hal baru tidak harus ditolak, asalkan cara memperkenalkannya benar dan tidak memaksa. Pengalaman satu orang ini memberi gambaran tentang pola pikir desa, hambatan sebenarnya, serta metode belajar yang paling efektif bagi generasi lama.
Sekecil apa pun langkahnya, pelatihan ini memberi harapan bahwa trading bisa menjadi salah satu cabang pengetahuan yang beriringan dengan kehidupan desa. Jika satu orang bisa beradaptasi, maka bukan tidak mungkin di masa depan akan ada lebih banyak lagi yang mampu mengikuti jalur yang sama. Dari satu orang ini, ToFarmer memperoleh fondasi awal untuk pengembangan sistem pelatihan yang lebih luas dan lebih terukur.
Akhirnya… panen juga!
Setelah 7 bulan menunggu, ToFarmer mencatat panen pertama dari Blok 1 — si lahan percobaan yang dari awal memang niatnya bukan cari hasil besar, tapi cari pengalaman nyata.
Cerita Singkatnya
Di Blok 1 ini ditanam 12 batang ubi jalar dari bibit yang dulu dipilih dari umbi besar—harapannya biar