Hari-hari terakhir di ToFarmer itu kayak campuran acara Misteri Gunung Merapi, Memasak Bersama Mama, dan DIY Tukang Pemula—tapi versi Menoreh. Kita lagi sibuk-sibuknya bangun Dinding Maria, sebuah galeri lukisan kopi bertema rohani Katolik. Kedengarannya mewah ya? Tapi prosesnya… ya tetap ala ToFarmer: pakai sandal jepit, baju belepotan tanah, dan ditemani aroma kopi yang kadang jadi inspirasi, kadang bikin lapar.
1. Dinding Maria: Galeri Serius yang Dibangun Santai
Galeri ini nanti bakal jadi tempat lukisan-lukisan kopi nongkrong dengan anggun. Tapi proses ngebangunnya?
Ehm… anggun itu opsional.
Kadang kita ukur dinding pakai feeling, kadang pakai penggaris beneran. Yang penting berdiri dulu, nanti baru dipercantik. Filosofinya: yang penting mulai dulu, estetik belakangan.
Pokoknya Dinding Maria ini nanti bakal jadi tempat orang lihat lukisan sambil bilang,
“Wah ini yang bikin petani?!”
Iya, yang bikin petani. Dan petani sekarang bukan cuma jago cangkul, tapi jago nyeni juga.
2. Kompos: Sahabat Setia Tiap Hari
Di tengah pembangunan galeri, kita tetap setia sama si kompos. Setia banget. Bahkan kayak hubungan yang toxic: ditinggal bentar aja, dia marah, panas, dan baunya ke mana-mana.
Tapi kompos inilah yang jadi jantung pertanian ToFarmer.
Dari sampah dapur, daun kering, dan semangat sisa-sisa kita, lahirlah tanah kompos yang subur.
Kita aduk, kita bolak-balik, kita cek kelembapan…
Kaya ngurus anak kecil, tapi versi yang nggak bisa protes.
3. Eksperimen Mangga: Perjalanan 1 Biji yang Penuh Drama
Nah ini bagian paling seru.
Di sela-sela aktivitas padat, kita memulai eksperimen besar (padahal kecil tapi kita besarkan biar keren): menanam 1 biji mangga.
Cuma satu.
Karena fokus adalah kualitas, bukan kuantitas. (Alibi karena mangganya cuma satu biji.)
Langkah-langkah ilmiah ala ToFarmer:
-
Biji mangga dijemur
Biar dia mikir keras, “Aku harus kuat.” -
Dikupas kulit luarnya
Supaya ibaratnya: kita bantu dia membuka jati diri. -
Ditancapkan ke tanah kompos buatan sendiri
Jadi dia langsung merasakan premium treatment: first class soil. -
Diletakkan di lokasi jalan masuk Isoteri Kopi
Karena suatu hari, kalau dia tumbuh besar, dia bakal jadi satpam alami.
Dan nanti di jalur itu mau ditambah durian juga. Jadi si mangga ini calon tetangga dari raja buah.
Dan setiap pagi kita nengok dia sambil bilang,
“Gimana nak? Sudah siap tumbuh?”
Dia diam saja, tapi kita tahu dia sedang menghimpun kekuatan.
4. Jalan Masuk Isoteri Kopi: Masa Depan Buah-buahan
Rencana besar ToFarmer adalah menanam pohon buah di sepanjang jalan masuk: mangga, durian, dan mungkin buah-buah lain yang belum menentukan nasib.
Jadi suatu saat nanti, orang masuk ke Isoteri Kopi itu bukan cuma lihat bangunan dan kebun—
tapi disambut oleh buah-buahan yang kita rawat dari nol.
Kalau mangga pertama ini sukses, dia akan jadi founding father pohon buah ToFarmer.
5. Ritme Harian yang Aneh Tapi Masuk Akal
Satu hari bisa:
-
pagi bikin kompos,
-
siang bangun galeri,
-
sore cek biji mangga sok kuat itu,
-
malam baca chart trading,
-
tengah malam mikirin blockchain,
-
jam 2 pagi nulis artikel biar ada dokumentasi.
Orang luar mungkin bingung: “Ini proyek apa sih?”
Tapi bagi kita, semua hal itu justru saling nyambung.
Pertanian, seni, teknologi, trading — semua bertemu di satu kata: ToFarmer.
6. Penutup: Dari 1 Biji Mangga, 1 Galeri, dan 1 Semangat
Sebenernya apa yang kita lakukan sekarang terlihat sederhana:
-
Bangun dinding,
-
aduk kompos,
-
tanam satu biji mangga.
Tapi justru dari hal-hal kecil inilah masa depan ToFarmer sedang dirajut.
Yang penting kita bergerak, konsisten, dan tetap lucu menghadapi hari-hari yang melelahkan.
Suatu hari nanti, saat orang melewati jalan masuk Isoteri Kopi dan melihat mangga, durian, dan galeri Dinding Maria yang sudah berdiri megah, kita bisa bilang:
“Itu semua dimulai dari satu biji mangga yang sempat dikupas dan dijemur.”






