Logo ToFarmer

Tampilkan postingan dengan label tim ladang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tim ladang. Tampilkan semua postingan

Menegaskan kembali tentang Metode Tanam Blok demi Blok


 

Metode Tanam Blok demi Blok

Belajar dari Pot, Kembali ke Tanah

Metode tanam blok demi blok berangkat dari pengamatan sederhana: menanam di pot membuat kita lebih paham kebutuhan tanaman. Di dalam pot, ruang tumbuh terbatas, tanah terukur, air dan nutrisi lebih mudah diamati. Kita jadi tahu kapan tanah terlalu padat, kapan terlalu basah, dan bagaimana akar berkembang.

Namun muncul pertanyaan yang sangat membumi, terutama di desa:

Kalau tanahnya luas, ngapain nanam di pot?

Di sinilah metode tanam blok demi blok menemukan bentuknya.


Pot Itu Alat Belajar, Bukan Tujuan

Pot bukanlah tujuan akhir bertani. Pot hanyalah alat belajar.
Ia mengajarkan satu hal penting: tanaman butuh ruang hidup yang jelas dan terkendali.

Metode blok demi blok mengambil prinsip pot, lalu melepaskannya dari benda pot itu sendiri. Yang dipertahankan bukan wadahnya, melainkan cara berpikirnya.


Dari Pot ke Tanah: Blok Tanam

Dalam praktiknya, metode ini dilakukan dengan cara:

  • Membuat lubang tanam sesuai kebutuhan tanaman

  • Mengisi lubang dengan tanah yang telah dikondisikan

  • Menanam langsung di tanah kebun, tanpa pot

Lubang tanam inilah yang berfungsi sebagai blok — ruang hidup tanaman yang jelas, terukur, dan tetap menyatu dengan tanah asli.

Tanah di sekitarnya tetap alami. Tidak dipaksa seragam. Tidak ditutup plastik. Tidak dipisahkan dari lingkungannya.


Mengenal Tanaman Lewat Blok

Keuntungan utama metode ini bukan semata hasil panen, tapi kedekatan dengan tanaman.

Dari satu blok ke blok lain, kita bisa belajar:

  • Bagaimana respon tanaman terhadap jenis tanah

  • Kebutuhan air yang sebenarnya

  • Cara akar berkembang

  • Kenapa satu tanaman tumbuh lebih baik dari yang lain

Tanaman tidak lagi diperlakukan sebagai objek produksi, tapi sebagai makhluk hidup yang kita pahami pelan-pelan.


Cocok untuk Desa, Tidak Ironis

Di desa, tanah biasanya masih luas. Alam masih dekat.

Metode tanam blok demi blok terasa lebih masuk akal dibanding menanam di pot di tengah kebun. Tidak ironis. Tidak konyol.

Kita tetap bisa bertani secara terukur dan terkendali, tanpa menjauh dari karakter alam desa.


Bertani dengan Cara yang Masuk Akal

Metode tanam blok demi blok bukan teknologi canggih.
Bukan juga solusi instan.

Ini adalah cara bertani yang:

  • Sederhana

  • Sadar

  • Membumi

Belajar dari alat, lalu kembali ke tanah.


Artikel ini merupakan bagian dari eksplorasi pertanian eksperimental ToFarmer, yang berangkat dari praktik lapangan dan pengamatan langsung terhadap tanaman.

Cerita Lucu & Santai ToFarmer: Dari Dinding Maria Sampai Biji Mangga Sok Kuat



Hari-hari terakhir di ToFarmer itu kayak campuran acara Misteri Gunung Merapi, Memasak Bersama Mama, dan DIY Tukang Pemula—tapi versi Menoreh. Kita lagi sibuk-sibuknya bangun Dinding Maria, sebuah galeri lukisan kopi bertema rohani Katolik. Kedengarannya mewah ya? Tapi prosesnya… ya tetap ala ToFarmer: pakai sandal jepit, baju belepotan tanah, dan ditemani aroma kopi yang kadang jadi inspirasi, kadang bikin lapar.

1. Dinding Maria: Galeri Serius yang Dibangun Santai

Galeri ini nanti bakal jadi tempat lukisan-lukisan kopi nongkrong dengan anggun. Tapi proses ngebangunnya?
Ehm… anggun itu opsional.

Kadang kita ukur dinding pakai feeling, kadang pakai penggaris beneran. Yang penting berdiri dulu, nanti baru dipercantik. Filosofinya: yang penting mulai dulu, estetik belakangan.

Pokoknya Dinding Maria ini nanti bakal jadi tempat orang lihat lukisan sambil bilang,
“Wah ini yang bikin petani?!”
Iya, yang bikin petani. Dan petani sekarang bukan cuma jago cangkul, tapi jago nyeni juga.

2. Kompos: Sahabat Setia Tiap Hari

Di tengah pembangunan galeri, kita tetap setia sama si kompos. Setia banget. Bahkan kayak hubungan yang toxic: ditinggal bentar aja, dia marah, panas, dan baunya ke mana-mana.

Tapi kompos inilah yang jadi jantung pertanian ToFarmer.
Dari sampah dapur, daun kering, dan semangat sisa-sisa kita, lahirlah tanah kompos yang subur.
Kita aduk, kita bolak-balik, kita cek kelembapan…
Kaya ngurus anak kecil, tapi versi yang nggak bisa protes.

3. Eksperimen Mangga: Perjalanan 1 Biji yang Penuh Drama

Nah ini bagian paling seru.
Di sela-sela aktivitas padat, kita memulai eksperimen besar (padahal kecil tapi kita besarkan biar keren): menanam 1 biji mangga.

Cuma satu.
Karena fokus adalah kualitas, bukan kuantitas. (Alibi karena mangganya cuma satu biji.)

Langkah-langkah ilmiah ala ToFarmer:

  1. Biji mangga dijemur
    Biar dia mikir keras, “Aku harus kuat.”

  2. Dikupas kulit luarnya
    Supaya ibaratnya: kita bantu dia membuka jati diri.

  3. Ditancapkan ke tanah kompos buatan sendiri
    Jadi dia langsung merasakan premium treatment: first class soil.

  4. Diletakkan di lokasi jalan masuk Isoteri Kopi
    Karena suatu hari, kalau dia tumbuh besar, dia bakal jadi satpam alami.
    Dan nanti di jalur itu mau ditambah durian juga. Jadi si mangga ini calon tetangga dari raja buah.

Dan setiap pagi kita nengok dia sambil bilang,
“Gimana nak? Sudah siap tumbuh?”
Dia diam saja, tapi kita tahu dia sedang menghimpun kekuatan.

4. Jalan Masuk Isoteri Kopi: Masa Depan Buah-buahan

Rencana besar ToFarmer adalah menanam pohon buah di sepanjang jalan masuk: mangga, durian, dan mungkin buah-buah lain yang belum menentukan nasib.

Jadi suatu saat nanti, orang masuk ke Isoteri Kopi itu bukan cuma lihat bangunan dan kebun—
tapi disambut oleh buah-buahan yang kita rawat dari nol.
Kalau mangga pertama ini sukses, dia akan jadi founding father pohon buah ToFarmer.

5. Ritme Harian yang Aneh Tapi Masuk Akal

Satu hari bisa:

  • pagi bikin kompos,

  • siang bangun galeri,

  • sore cek biji mangga sok kuat itu,

  • malam baca chart trading,

  • tengah malam mikirin blockchain,

  • jam 2 pagi nulis artikel biar ada dokumentasi.

Orang luar mungkin bingung: “Ini proyek apa sih?”
Tapi bagi kita, semua hal itu justru saling nyambung.

Pertanian, seni, teknologi, trading — semua bertemu di satu kata: ToFarmer.

6. Penutup: Dari 1 Biji Mangga, 1 Galeri, dan 1 Semangat

Sebenernya apa yang kita lakukan sekarang terlihat sederhana:

  • Bangun dinding,

  • aduk kompos,

  • tanam satu biji mangga.

Tapi justru dari hal-hal kecil inilah masa depan ToFarmer sedang dirajut.
Yang penting kita bergerak, konsisten, dan tetap lucu menghadapi hari-hari yang melelahkan.

Suatu hari nanti, saat orang melewati jalan masuk Isoteri Kopi dan melihat mangga, durian, dan galeri Dinding Maria yang sudah berdiri megah, kita bisa bilang:

“Itu semua dimulai dari satu biji mangga yang sempat dikupas dan dijemur.”



Panen Pertama ToFarmer: Ubi Jalar Blok 1

 


Panen Pertama ToFarmer: Ubi Jalar Blok 1

Akhirnya… panen juga!
Setelah 7 bulan menunggu, ToFarmer mencatat panen pertama dari Blok 1 — si lahan percobaan yang dari awal memang niatnya bukan cari hasil besar, tapi cari pengalaman nyata.






Cerita Singkatnya

Di Blok 1 ini ditanam 12 batang ubi jalar dari bibit yang dulu dipilih dari umbi besar—harapannya biar

Panen Perdana Ubi Jalar: Satu Biji, Banyak Makna



Pernah nggak sih kamu penasaran sama tanaman yang lagi dirawat, kira-kira udah ada hasilnya apa belum? Nah, itulah yang saya alami waktu lihat blok 1 kebun ubi jalar ToFarmer. Usianya baru
5 bulan, belum masuk waktu panen sebenarnya. Biasanya ubi jalar kan dipanen di umur 6–7 bulan, biar umbinya gede, banyak, dan lebih maksimal.

Tapi dasar rasa penasaran manusia ya, apalagi petani hobi eksperimen 😂. Akhirnya, saya coba “tes” cabut satu pohon. Tujuannya simpel: mau lihat, udah ada umbinya atau belum? Eh ternyata… jreng! keluar satu ubi yang lumayan juga, ukurannya udah sebesar kepalan tangan

Senyum langsung merekah, rasanya kayak nemu harta karun kecil di bawah tanah. 

Karena sudah ketemu nyata, nggak lengkap kalau cuma ditaruh. Ubinya langsung dicuci bersih, dipotong, terus digoreng sederhana. Hasilnya? Renyah di luar, empuk manis di dalam. Satu ubi ini jadi semacam simbol nyata: walau belum waktunya panen besar, tapi bukti hasil kerja di tanah udah kelihatan. Kenapa ini penting?

Makhluk Aneh di Ladang! Temuan Hama Misterius Saat Potong Batang Ubi

 



Ladang itu nggak pernah bener-bener sepi.

Bahkan ketika cuma mau potong-potong batang ubi jalar, kadang ada saja makhluk tak diundang yang ikutan nongol.

Itu yang saya alami kemarin waktu main di Blok-by-Blok Hobitani.

---

Nemu Makhluk Aneh di Batang Ubi Jalar

Awalnya, niatnya cuma mau potong batang-batang ubi yang udah mulai rimbun.

Eh, tiba-tiba ada yang nongkrong di situ…

Warnanya putih agak abu-abu.

Bentuknya sekilas kayak kutu daun…

Tapi bukan kutu daun.

Kayak bukur? Tapi juga… bukan.

Bingung, bro!

---

Biasanya Petani Panik, Kita Malah Seneng!

Normalnya, kalau petani nemu hama, ya panik lah.

Khawatir rusak tanaman, takut gagal panen, dll.

Lah kita?

Malah seneng!

Karena di Hobitani, prinsipnya

Ramuan Mistis Penangkal Jamur: Rahasia dari Dapur Petani Gunung


 "Ramuan ini datang lewat mimpi, katanya... Tapi aromanya nyata, dan efeknya nendang! Buat yang tanamannya suka kena jamur, mungkin ini saatnya kembali ke jalur... jalur dapur."


Halo para sahabat tanah, penyair pupuk, dan peracik ramuan absurd!

Kali ini, kami kembali mengungkap ramuan sakti dari balik dapur sederhana petani mistis di lereng Menoreh. Tanpa perlu mantra latin atau menunggu bulan purnama, kamu bisa bikin fungisida organik sendiri, cukup dengan bahan yang biasa dipakai ibu-ibu masak sayur!


 Apa Itu Fungisida Organik?


Fungisida itu ibarat bodyguard bagi tanaman—tugasnya menjaga dari jamur-jamur nakal yang suka bikin daun bopeng dan batang busuk.

Tapi yang ini beda... bukan dari pabrik, bukan dari kimia yang susah dibaca. Ini racikan petani mistis, dari jahe, bawang, dan air. Efeknya?

 Murah, praktis, dan penuh aura... dapur!

🌿 Bahan-Bahan Rahasia:


Jahe: 2 ruas


Bawang putih: 3 siung


Air bersih secukupnya


Blender dan sedikit niat


🧙 Cara Pembuatan:


1. Ritual awal: Ranjangi jahe dan bawang seperti mau bikin sambal anti-santet.


2. Masukkan ke blender. Jangan lupa tuang air, bukan kopi.


3. Haluskan dengan semangat anti-jamur.


4. Tuang hasil blender ke dalam wadah sakral... atau gelas ukur plastik juga nggak apa-apa.


5. Biarkan beberapa saat sambil tatapan kosong ke langit (opsional).


6. Gunakan saat menanam atau saat muncul tanda-tanda jamur. Bisa untuk rendaman bibit juga!

---


🍠 Praktik di Ladang Blok 3:


Setelah ramuan disiapkan, bibit ubi jalar yang sudah disimpan 2 hari diletakkan di atas daun pisang. Seperti upacara adat mini. Bibit dimandikan ramuan, lalu ditanam dengan harapan tinggi... dan sedikit mistik.



---


📽️ Lihat Videonya di Channel HOBITANI!


Kalau kamu masih belum percaya, langsung tonton sendiri prosesnya di video terbaru. Judulnya?

👉 "LIAT NIH! OBAT TANAMAN PALING GILA PETANI MISTIS!"

Sudah tayang dan mengandung unsur absurb yang cukup untuk bikin kamu bilang “lho kok bisa?”.

---


Kenapa Harus Coba?


Tanpa bahan kimia

Bisa dibuat di rumah

Tanaman sehat, dompet tetap hemat

Plus... vibes-nya dapet!


Petani masa kini harus kreatif, bukan hanya cangkul tapi juga ilmu dari nenek moyang dan... dapur!

Kalau kamu suka eksperimen dan percaya bahwa alam punya rahasianya sendiri, mungkin ini saatnya kembali ke akar—secara harfiah.


> “Kadang, solusi ada di dapur... bukan di toko pertanian.” – Petani Hobitani





---


#Hobitani #FungisidaOrganik #PetaniMistis #RamuanDapur #PertanianAlami #AbsurdTapiAmpuh #ObatJamurTanaman #UbiJalar #BelajarBertani #PetaniMuda #MenorehMagic


NEKAT! Saya Potong Ubi Jalar Tanpa Ilmu: Eksperimen Absurd dari Blok 1. Jurnal telo pendem 36-88



 NEKAT! Saya Potong Ubi Jalar Tanpa Ilmu: Eksperimen Absurd dari Blok 1

Blok 1. Ladang yang tenang. Tapi tidak malam itu.

Saya, seorang petani pemula penuh semangat dan penuh tanda tanya, memutuskan sesuatu yang bisa saja dianggap… gegabah. Saya potong batang ubi jalar tanpa ilmu pasti. Bukan karena saya benci tumbuhan panjang—tapi karena batangnya tumbuh seperti ingin menjangkau dunia paralel.


Kenapa Dipotong?


Karena katanya (entah siapa yang bilang), kalau batang terlalu panjang, tanaman bisa lupa fokus. Seperti manusia: kalau pikirannya kemana-mana, hasilnya gak optimal. Jadi saya potong aja satu kilan tangan… dengan penuh cinta… dan sedikit rasa bersalah.


Apa yang Terjadi?


Tidak ada badai petir. Tidak ada cahaya misterius dari balik daun. Tapi suasananya... mendadak hening. Angin berhenti sebentar. Ubur-ubur khayalan saya pun ikut terdiam.


Saya lanjut pangkas sambil ngelucu sendiri, berharap tanaman ini nggak "tersinggung". Beberapa daun yang masih hijau segar saya pangkas juga, biar energinya balik ke akarnya. Logikanya seperti parenting: kadang harus tegas demi masa depan anak.


Mistis Tapi Logis?


Mungkin. Atau mungkin saya hanya terlalu larut dalam perasaan berdosa setelah pangkas-pangkas. Tapi hey, ladang ini hidup. Dan saya yakin, tumbuhan juga tahu niat baik manusia—meski manusia ini sering nekat dan trial-error.


Pelajaran dari Blok 1


Ubi jalar cepat banget tumbuhnya, jadi wajib diawasi kalau mau hasil panen maksimal.


Pemangkasan bisa bantu fokus energi ke umbi, tapi jangan asal babat—amati dulu reaksinya.


Petani pemula sah-sah aja eksperimen, tapi catat prosesnya, supaya bisa belajar dari yang berhasil maupun yang bikin merinding.


Tonton Videonya


Kalau kamu pengen lihat versi visual dari kisah ini, termasuk narasi absurd dan suara jangkrik yang mungkin menyimpan kode rahasia alam, tonton videonya di sini:

[LINK VIDEO]


Dunia pertanian tidak selalu serius dan kaku. Di balik lumpur dan daun, ada cerita, tawa, dan kadang... aura misterius.

Selamat mencoba. Tapi jangan potong ubi jalar di malam Jumat. Katanya sih..

Nabung Kompos, Nabung Masa Depan (plus bonus tanah subur)





Nabung Kompos, Nabung Masa Depan (plus bonus tanah subur)

Di dunia ToFarmer, kami nggak cuma nabung uang (itu juga belum tentu), tapi juga nabung kompos!
Kenapa? Karena pupuk organik itu ibarat nasi buat tanah. Kalau nggak ada, tanaman bisa lemes, layu, dan ogah diajak panen bareng.

Jadi, daripada ngandelin pupuk luar terus, kami milih bikin sendiri. Gampang kok, modalnya rumput liar, air bekas cucian beras, dan semangat berkebun tanpa drama.


Bahan-Bahan Ajaib dari Sekitaran Kebun:

  1. Rumput hijau & rumput kering – alias bahan ijo dan bahan coklat.
    (Bukan buat salad, ya!)
  2. Air cucian beras – jangan dibuang, ini nutrisi tersembunyi.
  3. EM4 – mikroba baik yang siap ngerubungin bahan kompos kayak penggemar idol Korea.
  4. Pupuk kandang jadi – yang udah enggak bau dan gak bikin tetangga protes.

Cara Bikin Kompos Gaya Kami:

Kami bikin sistem blok kompos. Jadi bukan tumpuk asal tumpuk kayak laundry belum dicuci.
Sekarang udah ada 2 blok: satu udah sebulan (udah mulai mateng), satu lagi masih bocah.

Step-by-Step:

  1. Cari Lokasi

    • Ukuran kira-kira 1 meter x 1 meter, tinggi tumpukan juga segitu.
    • Sirkulasi udara penting, biar gak pengap kayak hubungan tanpa kejelasan.
  2. Tumpuk Menumpuk Penuh Cinta

    • Rumput dipotong dulu, biar gampang “dimakan” mikroba.
    • Campur bahan ijo & coklat, biar C/N-nya seimbang (bukan candaan fisika, serius).
    • Setiap 20-30 cm, tambahin:
      • 1 liter air cucian beras
      • 1-2 sendok makan EM4 dilarutkan
      • ½ ember pupuk kandang
    • Ulangi sampai setinggi cita-cita, eh maksudnya 1 meter aja.
  3. Tutup & Rawat

    • Tutup pakai terpal atau plastik biar hangat dan lembap.
    • Tapi jangan sampai becek ya, nanti malah jadi kolam lele.
  4. Bongkar Pasang Rutin

    • Setiap 2 minggu, kompos dibalik.
      Ini semacam stretching buat si tumpukan, biar gak pegal dan bisa fermentasi maksimal.

Strategi Kompos Jalan Terus:

Karena kita nggak mau kehabisan, maka:

  • Setiap hari nyicil bahan, biar nggak numpuk kayak utang tugas.
  • Blok baru dibuat bertahap, biar ada kompos matang dan yang lagi diproses.
  • Kompos matang disimpan rapat, kayak rahasia dapur nenek.
  • Semua dicatat: tanggal mulai, bahan yang dipakai, dan kapan siap panen.
    (Kami nggak main-main, ini ada spreadsheet-nya!)

Penutup: Kompos, Cinta, dan Masa Depan

Menabung kompos itu bentuk cinta — buat tanah, buat tanaman, dan buat kemandirian petani masa depan.
Nggak perlu beli pupuk terus, cukup manfaatkan yang ada.
Lebih hemat, lebih ramah lingkungan, dan pastinya... lebih ToFarmer banget!

Kita akan terus eksperimen dan update hasilnya di sini.
Kalau kamu punya cara unik bikin kompos? Sini share, siapa tahu bisa kita masukin ke Kompospedia versi lokal!

#ToFarmer #NabungKompos #TanahHappyPetaniHappy #PupukGaHarusBeli



Jurnal Telo Pendem – Hari ke 27-36

 


Setelah melewati berbagai tahap persiapan, akhirnya tiba saatnya untuk memulai penanaman. Hari ini, saya memastikan bahwa lahan sudah benar-benar siap. Tanah yang sudah diolah sebelumnya diperiksa kembali, memastikan tidak ada genangan air yang berlebihan atau permukaan tanah yang terlalu padat.

Saya juga melakukan pengukuran ulang untuk memastikan jarak tanam yang tepat. Karena umbi telo (ubi jalar) membutuhkan ruang untuk berkembang, saya menargetkan jarak sekitar 30–40 cm antar tanaman agar pertumbuhan optimal.

berikut adalah tahap-tahap dengan gambar dari sebelum tanam sampai tanam.





























Jurnal Telo Pendem – Hari ke 10-26


Jurnal Telo Hari ke-10 hingga 26

Eksperimen: 3 Metode Penanaman (Pendam, Setengah Pendam, Media Air)


1. Metode Pendam Penuh

Hasil: Belum bertunas sampai hari ke-26.

2. Metode Setengah Pendam

Hasil: Tumbuh sangat bagus, tetapi menghadapi gangguan dari hewan liar. Sampai hari ke-26, sudah melakukan penyulaman sebanyak 3 kg.

3. Metode Media Air

Hasil: Perawatan lebih mudah dan simpel, namun pertumbuhan lebih lambat dan daun kurang segar dibanding metode lainnya.

Kesimpulan Awal:

Metode pendam penuh kurang efektif karena tidak muncul tunas dalam periode ini.

Metode setengah pendam memiliki pertumbuhan terbaik, tetapi rawan gangguan hewan liar.

Metode media air lebih praktis dalam perawatan, tetapi hasilnya lebih lambat dan kualitas daun kurang optimal.

berikut foto-fotonya yang mewakili.tahap demi tahap dari atas ke bawah