Di balik hamparan hijau yang sering muncul di brosur wisata, ada cerita lain yang jarang diangkat. Cerita tentang kebun yang sebenarnya sudah ngos-ngosan. Tentang petani yang masih memetik daun, meski kebun itu bukan miliknya. Tentang hidup yang terus jalan, walau tak pernah disorot kamera.
Pangeran Diponegoro jelas tidak menanam teh. Tidak ada hubungan langsung antara perjuangan beliau dengan kebun teh. Tapi nama besar Diponegoro sering diseret ke mana-mana, dipakai untuk memberi kesan mulia pada proyek-proyek pembangunan yang datang jauh setelah zamannya. Simbol besar dipasang, sementara kenyataan kecil di lapangan sering ditutup rapat.
Kita melihatnya sendiri, bahkan kita mengalaminya. Pola yang dipakai adalah pola lama: perkebunan besar ala kolonial. Monokultur, rapi, mudah dihitung anggarannya. Lahan dibabat habis, lalu teh ditanam sebagai pengganti. Sistem ini hidup dari proyek dan dana, bukan dari keberlanjutan.
Selama dana mengalir, kebun dirawat. Begitu proyek selesai, kebun ditinggal, kebun teh tidak benar-benar dihidupkan . Selanjutnya Wisata jadi jalan cepat: pemandangan dijual, meski teh tak lagi jadi tumpuan utama. Cerita diperhalus, sejarah diringkas, kegagalan ditutup dengan foto-foto cantik.
Istilah seperti “agrowisata teh aktif” terdengar meyakinkan. Tapi tetap menyisakan tanya: aktif untuk siapa? Dari perkebunan ke wisata, sering kali itu cuma luka lama yang ditutup brosur. Sementara petani yang masih bertahan, itulah perlawanan yang paling sunyi.
Di tengah kondisi seperti itu, masih ada petani yang memilih tetap jalan. Mereka tidak semua lahan sendiri. Bahkan menyewa atau mengontrak petak-petak kecil kebun teh yang belum sempat dibabat. Mereka memetik daun, mengolah seadanya, lalu menjual dalam skala kecil.
Tidak ada proyek besar di sini. Tidak ada janji. Yang ada cuma keberanian, konsistensi, dan pengetahuan yang diwariskan dari lapangan.
Kalau ini mau disebut gerilya, ini bukan gerilya angkat senjata. Ini gerilya hidup: bertahan supaya sesuatu tidak benar-benar mati. Di titik ini, narasi Diponegoro justru terasa lebih pas—bukan soal perang, tapi soal laku bertahan. Bedanya, kalau Diponegoro musuhnya jelas, petani hari ini sering tak tahu harus melawan siapa.
Dalam cara pandang Jawa, menang tidak selalu soal angka besar. Ada konsep menang tanpa ngasorake—menang tanpa merendahkan, menang tanpa harus menguasai. Petani teh ini mungkin kalah secara ekonomi dan kebijakan. Tapi selama mereka masih menanam dan merawat kebun dengan jujur, hidup itu belum kalah. Yang dijaga bukan cuma tanaman, tapi cara hidup.
Dari kesadaran sederhana itulah kami melangkah: yang masih hidup tidak boleh ditinggal sendirian.
Peran kami sederhana dan realistis:
mencatat proses yang benar-benar terjadi,
menjaga agar cerita petani tidak hilang,
dan, jika kelak sistem memungkinkan, membantu menciptakan keberlanjutan bagi mereka yang tetap konsisten.


















